Penelusuran Lebih Lanjut

Showing posts with label Artikel Islami. Show all posts

Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.3

by in ,

بسم الله الرحمن الرحيم

Ust Yusuf Mansur
Nuniek - Dikesempatan saat ini saya akan melanjutkan pembahasan saya yang lalu tentang Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.2 dengan melanjutkannya ke pembahasan Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.3, semoga dapat membawa banyak manfaat bagi kita semua.. Amiin ya Robbal 'alamin.

Berikut ini beberapa contoh hadits yang memberikan motivasi beribadah/beramal:

  • Saad bin Abi Waqqash r.a. berkata, “Suatu hari kami duduk bersama Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa Alihi wasallam, kemudian beliau bersabda, apakah kalian tidak mau mendapatkan seribu kebaikan setiap harinya?! Seseorang yang hadir di situ bertanya, bagaimana caranya mendapatkan seribu kebaikan itu? Beliau menjawab, yaitu dengan bertasbih sebanyak seratus tasbih. Maka baginya tertulis seribu kebaikan dan darinya dihapus seribu kesalahan.” (HR. Muslim).

Nah, hadits ini memberikan motivasi untuk membaca tasbih sekurang-kurangnya seratus kali. Tapi apakah setelah tahu bahwa ia bisa mendatangkan seribu kebaikan dan menghapus seribu kesalahan, lalu kita tidak mau berbuat kebaikan? Tentu saja kita akan tetap melaksanakan kebaikan yang lain, tidak hanya bertasbih saja. Tapi hadits ini cukup untuk membuat kita menjadi gemar membaca tasbih. Lalu salahkah kita mengharap seribu kebaikan datang dan seribu kesalahan terhapuskan dengan membaca seratus tasbih? Tidak salah, sebab memang Rasulullah yang menawarkan hal tersebut. Dan ini tidaklah mengganggu apa yang disebut dengan “keikhlasan”.

  • Abu Dzar ra berkata, berkata Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa Alihi wasallam, "segala ucapan dari kalian bisa menjadi sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, mengajak kepada kebaikan adalah sedekah dan melarang kemungkaran adalah sedekah. Hal itu dicukupi dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha.” (HR. Muslim).

Di dalam hadits tersebut, Rasul memberikan motivasi bagi seseorang yang mau melaksanakan ibadah shalat
sunnah Dhuha. Disebut keutamaannya mencukupi “keperluan” sedekah dengan hanya mengerjakan shalat sunnah Dhuha dua rakaat. Tapi apakah kemudian kita yang membacanya lalu tidak mau sedekah lagi? Tentu saja tidak. Kita tetap akan bersedekah kalau memiliki kelebihan uang. Hanya, setelah tahu keutamaan shalat sunnah Dhuha yang demikian besarnya, ada kemungkinan bagi seseorang lebih giat lagi melaksanakan shalat sunnah Dhuha ini. Lalu salahkah kita berharap akan fadilah shalat sunnah ini? Jelas tidak salah, sebab Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa Alihi wasallam sendiri yang menawarkannya dan memberitahukannya.
  • Abu Hurairah ra berkata, bahwa ada fakir miskin Muhajirin yang datang kepada Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa Alihi wasallam, kemudian mereka berkata kepada beliau, “Enak betul orang-orang yang memiliki harta. Karena mereka meraih derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat seperti kami dan puasa seperti kami juga, sedangkan mereka memiliki kelebihan berupa harta yang dengannya mereka dapat melaksanakan ibadah haji dan umrah serta berjihad dan bersedekah.”

Lalu Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang dengannya kalian akan bisa mengejar kelebihan mereka dan dengannya pula kalian akan mendahului orang yang setelah kalian. Tidak ada orang yang mengungguli kalian kecuali jika dia mengerjakan hal yang sama dengan yang kalian kerjakan.”
Mereka menjawab, “Mau ya Rasul.”
Beliau meneruskan, “Kalian membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.”
Abu Shalih, perawi dari Abu Hurairah, ketika ditanyakan tentang bagaimana mengucapkan zikir tersebut, dia berkata, “Bacalah subhanallah, alhamdulillah dan Allahu akbar, sehingga masing-masing dibaca tiga puluh tiga kali.” (Muttafaq „alaih).
***

Begitulah halnya dengan sedekah. Allah dan Rasul-Nya memberikan spirit, memberikan motivasi, memberikan stimulus, bahwa bila kita mau bersedekah, maka salah satu keutamaannya adalah kita dijauhkan dari bala dan dijauhkan dari kesulitan (di samping kita akan dijauhkan dari penyakit dan ditambah rezekinya). Apalagi janji-Nya tentang seputar pelipatgandaan amal banyak diabadikan di dalam al Quran. Alias Allah sendiri (di luar hadits) yang menyatakan/mengundang seseorang beramal dengan imbalan balasan kebaikan yang lebih baik lagi. Contohnya adalah apa yang tertera di dalam ayat berikut ini;

  • “Barangsiapa yang melakukan amal baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya…” (al Anâm: 160).
  • “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan satu benih yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana pada tiap-tiap bulir mengandung seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang dikehendaki…” (al Baqarah: 261).

Maka tidaklah salah bila kemudian kita juga berharap balasan dari Allah. Dan sudah barang tentu, bila hal ini salah, maka Allah sendiri tidak akan menjanjikannya.

Lihat lagi ayat berikut ini, yang sekilas nampaknya akan kontradiksi:
“… Dan apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, maka pahalanya untuk diri kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah…”(al Baqarah: 272).
Tapi ternyata ayat ini bukan menunjukkan ketidakbolehan meminta kepada Allah lewat jalan amal. Ayat ini menunjukkan larangan beramal sebab manusia, tapi untuk mencari ridha-Nya dalam beramal. Dan perhatikan sekali lagi. Malah, bukankah dengan Allah mengungkapkan keutamaan beramal di jalan-Nya, di ayat-ayat sebelumnya, itu juga menunjukkan keridhaan-Nya memberi lebih, dan ridha kita memintanya? Ini bahkan dibuktikan dengan dilanjutkan di ayat tersebut juga (di ayat yang sama) dengan kalimat:
“… Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup. Sedikitpun kamu tidak akan dianiaya.” (al Baqarah: 272).

Dan juga lihat motivasi dari Allah di ayat berikut ini;
“Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (al Baqarah: 277).

Jadi, ini tidak terkait dengan ikhlas dan tidak ikhlas. Inilah hubungan termanis antara Allah dan hamba-Nya, Rasul dan ummatnya. Bila kita baik kepada Allah dan Rasul-Nya, mematuhi apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka keperluan kita akan dicukupkan, dan kita akan ditolong.

Sementara itu, teruslah melatih diri, bahwa tanpa iming-iming surga dan tanpa ancaman neraka, kita bisa juga beramal, dengan tujuan yang satu; Ridha Ilahi. Kita kan tidak bisa selamanya seperti anak kecil, yang baru mau menyapu kalau bundanya bilang, “Nak, tolonglah menyapu… nanti ibu tambahin deh uang saku…” Tidak. Kita harus melangkah menjadi orang dewasa. Suatu saat, ketika kita sudah dewasa dalam beragama, maka kita tidak perlu diiming-imingi uang saku untuk menyapu. Kita akan menyapu, dengan atau tanpa uang saku tambahan. Mudah-mudan Allah senantiasa memberikan bimbingan bagi kita.

Jadi insya Allah, kalau saudara berharap sesuatu dari amal saudara, sementara itu pengharapannya hanya kepada Allah, maka tidak mengapa. Jangan mempersulit diri dengan mengatakan bahwa ini tidak etis. Etis-etis saja. Wong berharapnya sama Allah. Yang tidak etis itu kalau justru kita tidak meminta kepada Allah. Dan kemudian kita membicarakan amal kita di mana-mana untuk tujuan dipuji (sedangkan bila tujuannya untuk ditiru saja tidak ada salahnya; siapa tahu bisa menjadi teladan). Dalam shalat saja kita dimotivasi oleh Allah dan Rasul-Nya, bahwa kalau saja kita mau berjama’ah, maka pahalanya akan dilipatgandakan dua puluh derajat lebih banyak daripada shalat sendiri. Tentu sebagai seorang muslim, ketika shalat berjamaah ini menjadi sifat kita, maka kita tiada lagi perlu melihat bahwa shalat berjamaah ini mengandung keutamaan dua puluh derajat lebih tinggi daripada shalat sendiri. Artinya, setelah pembelajaran terjadi, kita bisa shalat tanpa memikirkan lagi tentang pahala. Begitulah yang diharapkan dari motivasi tentang fadilah sedekah. Sebagai sebuah pembelajaran juga kiranya.


Tapi baiklah, mudah-mudahan ketika kita sudah bisa bilang, “masa sama Allah hitung-hitungan (dalam beramal)…” Mudah-mudahan saat itu kita sudah dimasukkan ke dalam derajat keimanan yang tinggi yang tidak perlu lagi semacam imbal saja dari Allah. Sekali lagi, latihlah diri kita dengan amal-amal yang kita lakukan hanya untuk ridha Allah.

Saya kira cukup segini aja dulu yah pembahasan kita tentang Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.3, udah mau shubuh.. Semoga dapat memberikan kita semua manfaat yang sebesar-besarnya.
Read More.. Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.3

Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.2

by in ,

بسم الله الرحمن الرحيم

Ust Yusuf Mansur
Nuniek - Pada kesempatan kali ini saya akan melanjutkan pembahasan saya yang lalu tentang Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.1 dengan Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.2 semoga pembahasaan ini dapat membawa manfaat bagi kita semua.

2. Bâdiru bishshadaqah, fa innal balâ-a lâ yatakhaththâha, bersegeralah bersedekah, karena bala (kesulitan, kesusahan, atau permasalahan), tidak pernah bisa mendahului sedekah. (al Hadits).

Sedekah diyakini bisa berperan sebagai penolak bala. Kiranya, hadits di atas tersebut bisa menjadi hadits pendukung keyakinan ini. Dan nyatanya memang demikian. Dalam konteks permasalahan, khususnya permasalahan hutang, tentu seseorang akan menghadapi kemungkinan intimidasi dan kemungkinan-kemungkinan jelek lainnya. Hal ini biasa kalau memang punya hutang.
Utamanya kalau pas tidak ada kemampuan membayar. 

Maka, bersedekah, menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar.

Seorang kawan bercerita, bahwa ia tidak punya uang yang cukup untuk membayar hutangnya. Kalaupun ia bayarkan, maka bukan saja uang tersebut tidak cukup untuk membayar hutangnya (bahkan untuk angsuran saja tidak cukup), tetapi ia juga tidak punya uang lagi. Maka yang ia lakukan adalah membagi tiga. Sepertiga ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan “ongkos jalan”, sepertiga ia gunakan untuk “sedikit bahasa” untuk yang menagih, dan sepertiganya lagi ia sedekahkan. Dan ia mengaku, di kemudian hari ia berhasil membayar hutangnya.

Seorang jamaah majlis yang kebetulan punya jadwal jatuh tempo hutang yang kelewat batas, pun memilih mengeluarkan sedekahnya untuk “meredam marahnya” mereka yang menagih. Dan efektif! Menagih sih memang menagih tuh petugas, tapi “tensinya” sudah tidak tinggi.

Lain lagi cerita seorang kawan yang kena wasir. Suatu hari ketika ia terbaring lemah di rumah sakit, datanglah keputusan dokter bahwa ia harus dioperasi untuk wasirnya. Lantaran ia takut dioperasi, dan tahu keutamaan sedekah bahwa sedekah bisa menghilangkan bala (dan ia menganggap bala itu termasuk penyakit), maka yang ia lakukan adalah bertanya kepada istrinya, “mah, berapa tabungan yang kamu punya?” Istrinya menjawab, “… Sekian…” Lalu ia berkata, “Mah, daripada uang itu dipake buat operasi, mendingan Mamah pulang aja. Sedekahin tuh uang buru-buru. Papah pengen pulang besok.”
Tahu ga pembaca, wasirnya malah sembuh! Tanpa operasi. Hanya dengan jalan sedekah.

Ketika saya berceramah di Medan, saya “dicegat” oleh salah satu jamaah yang hadir. Lalu ia “memaksa” saya mendengarkan kisah dia, bahwa dia pernah selamat lantaran sedekah. Ceritanya, suatu hari ia disuruh membeli tiket untuk bosnya, tujuan Singapura. Entah bagaimana, tiket tersebut hilang. Bingunglah dia. Lalu dia mengingat, katanya sedekah bisa menolak bala. Tangannya otomatis merogoh kantong. Dan di kantongnya ada sekitar Rp. 32.000,- rupiah. Tanpa pikir panjang lagi, ia sedekahkan uang yang ada di kantongnya tersebut kepada tukang sapu di bandara. Tidak lama kemudian, ada pengumuman bahwa telah ditemukan tiket tujuan Singapura, dan bisa diambil di bagian lost and found!

Seorang sahabat yang sangat dekat, pernah selamat dari bahaya kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Ceritanya, dengan kecepatan yang tinggi, mobil Escudonya ditabrak mobil Feroza dari belakang. Keras sekali benturannya, begitu tutur sang sahabat. Entah kejadian fisika seperti apa, nampaknya sedikit keajaiban terjadi. Mobil Escudonya engga apa-apa. Tidak lecet barang sedikitpun. Sedangkan mobil Feroza yang menabraknya hancur berat di bagian depannya. Kejadian tabrakan tersebut di sore harii. Cerita punya cerita, dia bertanya, apakah ini lantaran dia di pagi harinya dia mengeluarkan sedekah Rp. 200.000,- lalu dia diselamatkan Allah? Dengan penuh keyakinan yang mantap, saya menganggapnya iya. Entahlah apa yang terjadi andai di pagi harinya tidak diawali dengan bersedekah. Dan memang beginilah keutamaan sedekah. Jadwal ketabraknya tetap, tapi kekuatan dari tabrakan tersebut sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Sudah diredam oleh Allah karena sedekah. Semakin besar sedekah kita, semakin besar bala yang bisa dihilangkan. Insya Allah.

Memang perlu keyakinan yang tinggi kepada Allah, bahwa memang bersedekah bisa menghilangkan bala. Maka wajar bila di surah al Furqân: 70, ada persyaratan iman sebelum amal saleh. Amal saleh yang terbangun dengan pondasi keimanan yang tinggi, akan mempunyai dampak kekuatan iman yang besar juga.

3. Wa man qudira ‘alaihi rizquhû, falyunfiq mimmâ âtâhullâh, dan barangsiapa yang sedang disempitkan rizkinya, maka hendaklah ia banyak-banyak menginfakkan hartanya yang diberikan Allah. (ath Thalâq: 7).

Banyak orang yang hadir ke Majlis Syifa untuk konseling permasalahan ini dan itu, termasuk hutang. Dan terapi (jawaban) yang diberikan adalah memperbanyak sedekah saja. Karena sedekah bisa mengundang datangnya rezeki yang lebih besar. Dan begitulah yang ditegaskan oleh Allah di ayat yang dikutip di atas. Pada saat sempit rizki, justru kita harus berbagi, justru kita harus bersedekah.

Sebagiannya ada yang bertanya, kan kami tidak uang, dan kami justru dalam keadaan sulit? Saudara, kalau kita mau, maka ada saja jalan untuk bersedekah. Di satu sisi, boleh jadi kita tidak punya uang (baca: uang cash), tapi lihatlah aset di rumah. Mungkin kita punya tanah yang bisa kita wakafkan, mungkin kita punya benda elektronik yang bisa kita jual untuk kemudian kita sedekahkan, mungkin kita punya emas yang bisa kita jual juga, dan mungkin kita

punya-punya yang lainnya yang bisa kita “kecilin”, alias kita jadikan ia uang. Atau kita sumbangkan langsung secara fisiknya tanpa menunggu ia menjadi uang. Nah, bila kita bisa begini, maka kemungkinan besar kita akan dimudahkan oleh Allah segala urusan dan diberikan rizki yang banyak.
Sebuah pengorbanan juga akan dilihat Allah. Kecil pengorbanannya maka kecil pula bantuan Allah yang datang. Besar pengorbanannya maka besar pula bantuan Allah yang datang. Tentu saja keikhlasan tetap menjadi prasyarat yang utama, karena biar bagaimanapun kecil dan besarnya perngorbanan adalah hal yang relatif sifatnya.

Dalam hal besar kecilnya pengorbanan, Allah berfirman, lan tanâlul birra hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn, kalian tidak akan mencapai kebaikan, sampai kalian bisa mengorbankan apa yang kalian cintai. (Âli Imrân: 92). Dalam urusan hutang, maka kebaikan yang dimaksud adalah kemampuan menyelesaikan hutang. Sedang kebaikan bagi yang sakit adalah kesembuhan dari sakitnya, kebaikan bagi orang yang sedang surut bisnisnya adalah naik lagi bisnisnya, jaya lagi bisnisnya, dan seterusnya.

Sungguh aneh, jika kemudian ada orang-orang yang sedang bermasalah dalam urusan rezeki, lalu tidak menyambut penawaran dari Allah ini.

Seorang kawan bercerita, bahwa ia memiliki hutang sebanyak 70 juta. Menurut hitungan, tidaklah mungkin ia bisa bayar dan hampir saja menyerah. Lalu yang ia lakukan adalah mencari apa yang bisa ia “buang” untuk dijadikan senjata sedekah. Ketemu! Tidak jauh-jauh, yaitu handphone-nya. Ia jual saja handphone-nya, kemudian ia sedekahkan. Tidak lama berselang, ia ditagih lagi, dan memang wajar ditagih. Ia minta waktu. Ia juga bercerita, bahwa ia sedang ada sedikit bisnis. Hanya bisnisnya ini tidak jalan. Padahal, katanya, kalau bisnisnya ini jalan, insya Allah keuntungannya bisa dipakai untuk memulai mencicil hutangnya. Tahu apa yang terjadi, orang yang menagih tersebut malah menawarkan bantuannya lagi! Dia mengajukan syarat, bahwa keuntungan pertamanya ia ambil seluruhnya dulu untuk membayar hutang dia kepadanya. Hingga lunas. Baru setelah lunas, keuntungan dibagi dua. Tentu saja ia setuju. Kiranya, kita memang harus yakin sama janji dan kuasa Allah. Dan begitulah, kalau Allah sudah berkenan menolong, tak ada yang bisa menghalangi. Lihat saja, niatnya nagih, malah kemudian menjadi mitra bisnis lagi.

Satu hal yang mau saya garis bawahi, bahwa sedekah memang bisa benar-benar membuat Anda menjadi bisa bayar hutang, menyelamatkan Anda dari kemungkinan bahaya, dan membuat rizki Anda menjadi berlipat-lipat. Sungguh, di lain waktu, saya akan membahas perihal keutamaan sedekah ini lebih lengkap dan lebih luas lagi. Insya Allah.

Fadilah sedekah itu ada empat; mengundang datangnya rezeki, menghalau kesulitan, menyembuhkan penyakit, dan memperpanjang umur. (al Hadits).

Bolehkah Bersedekah Dengan Berharap Sesuatu Di Balik Sedekah Tersebut? Cerita Motivasi dan Spirit Dari Allah dan Rasul-Nya.

Lalu kemudian, yang menjadi pertanyaan, apakah boleh sedekah dengan mengharapkan “sesuatu” di balik sedekah yang kita lakukan?

Hal ini menjadi penting, sebab inti dari “menyelesaikan hutang segunung” adalah dengan jalan memperbanyak sedekah. Jangan sampai nanti kita diklaim, “Wah, saudara bersedekah ada maunya (yaitu mau dibebaskan hutang)”. Semoga Allah berkenan menunjukkan kita ke jalan yang benar, dan menyelamatkan kita dari kesalahpahaman akan ajarannya, serta melindungi kita dari keyakinan yang salah. Amin. Allah jualah Penentu Kebenaran Yang Hakiki.

Saudara, menurut pengetahuan kami (mohon koreksian bila ditemukan kesalahan) tidak mengapa saudara bersedekah sambil mengharap adanya bantuan Allah di masalah hutang saudara (atau di masalah-masalah yang lain). Karena ini adalah permintaan saudara kepada Tuhan saudara, Allah rabbul „alamin. Iman yang bagaimana lagi ukurannya dibanding kita percaya akan janji-Nya dan memohon kepada-Nya melalui pintu sedekah? Semakin besar tingkat kepercayaan kita kepada Allah, tentu akan semakin besar pula sedekah kita, pengorbanan kita.

Mengakadkan keutamaan sedekah dengan berharap masalah hutang selesai juga tidak terkait dengan ikhlas atau tidak ikhlas. Saudara boleh tidak sepaham dengan hal ini; bahwa masalah bisa dibeli dengan sedekah dan bahwa keinginan juga bisa dibeli dengan sedekah. Tapi insya Allah tulisan ini juga tidak bermaksud berkonfrontasi kepada mereka yang tidak setuju. Hal ini dipaparkan, tidak lain tidak bukan agar tumbuh spirit, tumbuh semangat untuk giat beramal dan bersedekah.

Saudara, sedekah dikatakan tidak ikhlas adalah kalau kita ngomongin sedekah kita, mengungkitnya di sesama manusia (al Baqarah: 264). Tapi kalau kita berharap “imbal jasa” dari Allah, menurut keterbatasan kami, ini namanya “doa”, atau “permintaan”. Pikirkanlah, apalah lagi yang lebih utama, daripada mengharap hanya kepada Allah? Dan memasukinya lewat pintu yang diperintahkan oleh-Nya, yang salah satunya adalah pintu sedekah?

Syahdan, ada orang tua yang bilang kepada anaknya, “Nak… Jika kamu berhasil masuk ranking sepuluh besar, kamu akan ayah belikan sepeda.” Lalu terjadilah dorongan yang begitu besar di dalam diri si anak tersebut sehingga ia memacu dirinya untuk bisa menembus sepuluh besar. Tatkala anaknya bisa mencapainya, si anak “menagih janji”. Dan dapatlah janji tersebut, karena memang sudah dijanjikan.

Dan Subhanallah, Allah menawarkan dan menjanjikan surga bagi siapa yang mengerjakan perintah-Nya, dan mengancam dengan neraka bagi siapa yang menjauhi-Nya. Maka, salahkah bila kita juga mengharap surga dan berharap jauh dari neraka-Nya dengan beribadah kepada-Nya? Allah memberikan surga dan neraka sebagai motivasi dan ancaman. Bahkan dalam Ilmu Hadits, kita juga mengenal adanya hadits targhib wattarhib, hadis motivasi dan ancaman.

Semoga pembahasan saya kali ini Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.2 dapat menjadi bahan renungan bagi kita, saya akan lanjutkan dilain kesempatan.
Read More.. Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.2

Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.1

by in ,

بسم الله الرحمن الرحيم
Ust Yusuf Mansur
NuniekBaiklah, untuk lebih masuk ke hati, kita bahas 2 dari hadits Rasulullah, dan satu firman Allah berikut ini yang berkenaan dengan Sedekah akan memperbanyak rezeki bag.1.

Firman Allah dan Hadits Rasulullah Yang Berkenaan Dengan Penyelesaian Hutang Segunung.

1. "Wallâhu fî ‘anil ‘abdi mâ kânal ‘abdu fî ‘awni akhîhi", Allah selalu berkenan membantu hamba-Nya, selama hamba-Nya berkenan membantu saudara-Nya. (al Hadits).

Inilah rahasia Allah yang tidak ada seorangpun tahu. Kenapa juga mereka yang sulit justru harus mencari mereka yang lebih sulit? Kenapa mereka yang susah justru harus mencari mereka yang lebih susah? Dan kenapa mereka yang menderita harus mencari mereka yang lebih menderita? Malah bukan sekedar mencari, tetapi membantu melepaskan kesulitannya, menolong kesusahannya, dan meringankan penderitaannya.
Dalam konteks penyelesaian hutang, maka kita harus cari orang-orang yang berhutang untuk kita bantu bebaskan hutangnya; misalnya bebaskan hutang tetangga kita di warung, bebaskan hutangnya yatim di sekolah (yang terkait dengan spp sekolahnya), kita bebaskan mereka yang berhutang ke kita (lantaran kesulitan ekonomi). Atau boleh juga kita cari anak yatim untuk kita pelihara, kita cari orang-orang miskin untuk kita bagi sebagian dari makanan dan simpanan harta kita, dan kita bagikan obat-obatan dan pakaian gratis, dan seterusnya.

Kiranya di antara sekian rahasianya adalah 4 hal berikut ini;

  • Dengan membantu sesama, kita seolah disuruh membuka mata dan melihat, betapa tidak layaknya bicara kesusahan, di tengah adanya banyak orang yang lebih susah dari diri kita. Terlalu banyak yang lebih susah, terlalu banyak yang lebih menderita, yang kemudian menjadikan kita tidak layak untuk bersedih. Apalagi berputus asa. Tidak berlama-lama sedih dan tidak berputus asa adalah awal yang bagus untuk memulai sebuah perubahan dan perbaikan. Apalagi bila ditambah dengan sebuah semangat. Semangat keluar dari permasalahan. Semangat bisa membuat kita memaksa diri kita untuk menatap langit, „tuk melangkah keluar menciptakan sejarah kehidupan yang baru.
  • Dengan melihat ke bawah, kita malah bisa bersyukur. Bukan mengeluh. Bersyukur dan tidak mengeluh inilah yang kemudian membawa ridha Allah masuk di tengah kehidupan kita yang sedang bermasalah. Kata Allah, hamba-Ku mengatakan mencintai-Ku, tapi ketika Aku beri dia sedikit saja kesusahan, ia mengeluh. Katakan padanya, sesungguhnya ia adalah pembohong. (Hadits Qudsi). Dan teringatlah saya akan nasihat Imam Ali, sebuah takdir (kejadian), kita suka tidak suka, senang tidak senang, ridha tidak ridha, terima tidak terima, toh ia akan terjadi juga. Andai kita menerima, maka bukan saja kita akan mendapat pahala, tetapi juga mendapat pertolongan dari Allah. Pertolongan Allah bisa berarti dukungan dan kemudahan dari Allah. Terima saja, dan syukuri. Lihat mereka yang lebih sulit, lebih susah dan lebih menderita.
  • Di antara perbuatan yang membuat Allah senang adalah membantu sesama. Banyak sekali ayat-ayat Allah di dalam al Quran yang Allah meminta kita untuk ringan membantu sesama. Bahkan sampai-sampai Allah memakai kata-kata, “Man dzalladzî yuqridullâha qardan hasanan… siapa yang bisa meminjamkan Allah…” yang kemudian Allah menawarkan ganti yang lebih baik, “… fa yudhâ-ifahû „adh-âfan mudhâ-afan…” Seolah-olah Allah yang perlu, dan „merengek-rengek kepada kita. Subhanallah, tidakkah kita malu kepada Allah?

Ada sahabat yang bertanya kepada Rasul, wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami meminjamkan Allah, sedangkan Dialah yang memberi makan, dan tidak diberi makan? Dialah yang mencukupkan segala kebutuhan, dan tidak memerlukan siapapun juga?
Rasulullah menjawab, meminjamkan Allah adalah dengan memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan, meringankan beban penderitaan sesama, dan bersedekah.
Akhirnya, ketika kita menjawab (memenuhi) permintaan Allah untuk membantu sesama, perbuatan itulah yang mengundang kesenangan dan keridhaan Allah. Kalau Allah sudah senang sama kita, sudah ridha, tidak akan ada kesusahan yang boleh menjadi bagian dari kehidupan kita.

 “… Sesungguhnya Aku beserta kamu jika kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada Rasul-Rasul-Ku, membantu mereka, dan kamu pinjamkan Allah dengan pinjaman yang baik. Sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kufur di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (al Mâ-idah: 12).

Lihatlah, kalau Allah sudah beserta kita, maka tentu masalah kita akan menjadi bukan masalah lagi. Karena Allah begitu kuasa.
Dalam al Quran bahkan Allah menyatakan, bukan saja akan mengembalikan pinjaman yang kita berikan dengan pengembalian yang lebih baik dan lebih banyak, Dia juga memberikan bonus berupa ampunan. Kiranya, bila dosa kita telah membuat begitu banyak kesusahan terjadi, maka ampunan Allah memang sebuah hal yang sangat-sangat kita perlukan;
“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan pembalasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (at Taghâbun: 17).

Atau di lain ayat Allah menyatakan akan melipatgandakan amal hingga sepuluh (al Anâm: 160) bahkan hingga 700x lipat (al Baqarah: 261). Tentu saja angka ini hanya sekedar menggambarkan betapa besarnya balasan Allah terhadap mereka yang mau melakukan amal baik (baca: sedekah).

  • Ketika kita membantu sesama, membantu mereka yang sulit, sesungguhnya kita sedang “menghibur diri sendiri”. Sehingga kita bisa berkata-kata; Apalah kesusahan kita? Toh di tengah kesusahan kita, kita masih bisa berjalan, masih bisa melihat. Sementara itu banyak yang tidak bisa berjalan lantaran lumpuh, dan banyak yang tidak bisa melihat lantaran buta; Apalah penyakit kita? Toh di tengah penyakit kita, kita masih bisa berobat, masih bisa jalan ke rumah sakit, masih ada yang menemani. Sementara itu, banyak yang sakit, tapi tidak ada obat, tidak bisa berobat, bahkan tidak ada sanak saudara yang membantu; Apalah hutang kita? Toh banyak juga yang sudah mah punya hutang, ia pun masih dipenjara, dan disita hartanya; Apalah masalah kita? Ketika kita bermasalah, kita masih memiliki keluarga. Toh, tidak sedikit orang yang bermasalah dan keluarganya kocar-kacir.
Semoga pembahasan saya kali ini tentang Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.1 dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita semua.
Read More.. Sedekah akan Memperbanyak Rezeki Bag.1

Pro-Kontra Perayaan Valentine Day

by in


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :


Pro-kontra perayaan valentine day antara ummat Islam khususnya dan semua orang pada khususnya. bagi mereka yang beragama Non-Islam maka sama sekali tidak ada masalah dan bukan cakupan kita (sebagai seorang muslim) untuk memerintahkan mereka atau melarang. dengan kata lain terserah mereka apa yang ingin mereka lakukan.


Pro Kontra akan lebih komplek lagi ketika permasalahan ini diangkat diantara orang-orang muslim pada umumnya. ada yang mengatakan boleh-boleh saja merayakan valentine day dengan alasan apa jeleknya merayakan valentine day. bagi mereka yang menentang maka tidak boleh ikut merayakan valentine day dengan alasan itu bukan dari ajaran Islam.


Coba pikirkan, dalam masalah ini kita berbicara sebagai seorang muslim. pertama yang menjadi dasar kita dalam hidup ini adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. apa itu As-SunnahAs-Sunnah adalah apa-apa yang datang dari Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam- dari perkataan, perbuatan, diamnya beliau akan suatu perbuatan (tidak melarang dan tidak memerintah) dan sifat baik dari fisik ataupun akhlaq.


Allah berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : " Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS Al-Hasyr : 7)


Juga berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Imran : 31)


Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda pada haji wadaa' :

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ

Artinya : "Dan aku telah meninggalkan sesuatu bagimu maka kamu tidak akan tersesat selamanya jika kamu berpegang padanya yaitu : kitab Allah (Al-Qur'an)." (HR Muslim)


Dan masih banyak lagi dasar-dasar yang mewajibkan kita untuk perpagang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. singkat kata, dasar pegangan kita dalam hidup adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah.


Ketika perayaan valentine day sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- dan para sahabatnya maka perayaan tersebut tidak boleh atau haram dilakukan oleh seorang muslim.

Allahu a'lam
Read More.. Pro-Kontra Perayaan Valentine Day

Pakar Kejiwaan : Berfikir Liberal Bagian dari Penyakit Mental

by in

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya memberikan judul Berfikir Liberal Bagian dari penyakit Mental karena  dalam Literatur Psikologis Islam, gagasan liberal ternyata bukan saja terkait problematika pemikiran, namun juga mental. Mental yang sakit akan membuat seseorang mudah terjebak dalam corak berfikir menyimpang. Artinya mental yang kuat akan sangat menentukan untuk membentuk iman yang sehat.

Prof. Syamsu Yusuf adalah guru besar bimbingan dan konseling Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung yang sangat concern mengkaji hal tersebut. Tidak hanya itu, beliau juga merupakan salah satu pakar yang memfokuskan diri untuk mengkaji masalah Mental Hygiene (Kesehatan Mental) khususnya dalam frame atau perspektif Islam.

Berikut tanya jawab tentang masalah ini bersama beliau :

Bisa anda jelaskan Makna Mental Hygiene ?
Mental hygiene merupakan proses atau upaya yang dilakukan untuk menjaga dan merawat mental seseorang, dan mental hygiene itu sendiri memiliki fungsi biasanya dalam lingkup pendidikan, di antaranya fungsi preventif atau pencegahan, perbaikan atau ameliorative dan suportif atau pengembangan. Kesehatan mental sendiri memiliki keterkaitan dengan penyesuaian diri, yaitu penyesuaian diri yang normal (well adjustment) yang berlawanan dengan maladjustment.

Apa perbedaan mental hygiene dengan Psikopatologi?
Psikopatologi merupakan bagian dari mental hygiene. Psikopatologi merupakan indikasi mental yang tidak sehat.

Apa yang menjadi ciri individu yang sehat mental?
Sebagaimana disebutkan tadi, individu yang sehat mental apabila mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, terhindar dari gangguan jiwa (neurosis). Neurosis atau gangguan jiwa itu berbeda dengan sakit jiwa atau psikosis, selain itu ciri mental yang sehat jika individu mencapai kebahagian pribadi dan orang lain.

Bagaimana ciri mental hygiene dalam perspektif Islam?
Kalau dalam Islam, mental hygiene didasarkan pada al Qur’an dan hadits. Ciri orang yang memiliki kesehatan mental di antaranya, jujur, tidak iri, saling menolong, rajin beribadah. Initnya, orang yang memiliki mental yang sehat apabila mengikuti perintah Allah dan Rasulnya.

Saat ini, sebagian besar umat Islam telah terjangkit virus sekuler-liberal, bagaimana hal ini ditinjau dari perspektif mental hygiene (berperspektif Islam)?
Mental itu kan terkait dengan cara atau pola berpikir. Islam itu adalah agama yang menyeimbangkan antara duniawi dan ukhrawi. Oleh karena itu, segala sikap dan perilaku maupun tindakan yang kita lakukan seharusnya diseimbangkan antara duniawi dan ukhrawi jangan dipisahkan. Pemisahan antara duniawi dan ukhrawi inilah yang disebut dengan sekuler. Jadi kita umat Islam saat ini hanya merasa menjadi muslim ketika berada dalam Masjid, namun setelah keluar dari masjid kita bebas melakukan maksiat.
Terkait perilaku sekularis dan liberalis, itu kan bertentangan dengan ajaran Islam. perlu saya tegaskan kembali, faktor mental juga erat kaitannya dengan cara berpikir, jika hal itu (cara berpikir) diarahkan pada cara yang salah menurut Al Qur’an dan Hadits, misalnya perilaku sekularis dan liberalis yang selalu atau mencoba memisahkan hal-hal yang bersifat duniawi dan ukhrawi maupun merubah hukum-hukum Tuhan, maka dalam perspektif Islam itu dapat dikategorikan sakit mental.
Read More.. Pakar Kejiwaan : Berfikir Liberal Bagian dari Penyakit Mental

Ustadz Yusuf Mansur dan "Matematika" Sedekah

by in

Akhir-akhir ini di layar TV hapir setiap hari jam 05.00 pagi muncul wajah ust. yusuf mansur  
Dialah ustad Yusuf Mansur, ustad muda dari Betawi. Usianya memang masih sangat muda, setelah mencari data lewat Mbah Google saya baru tahu kalau dia lahir pada tanggal 19 Desember 1976, jadi usianya baru 36 pada tahun ini. Wajahnya yang baby face, bersih, dan terkesan imut-imut. 
Setelah pamor Aa Gym redup, ada beberapa ustad muda yang tengah naik daun. Mereka diantaranya adalah Ustadz Solmet, Ustadz Maulana, Ustadz Jefry, Ustadz Arifin Ilham, dan Ustadz Yusuf Mansur (Ustadz = guru). Kalau ustad Jefry dikenal sebagai “ustad gaul” karena dia populer di kalangan anak-anak muda. Kalau Ustad Arifin Ilham populer dengan majelis dzikirnya yang menghadirkan ribuan ummat dengan dress code putih-putih. Oh ya, saya ada sedikit kritikan buat Arifin Ilham, menurut saya dzikir itu tidak perlu dilakukan secara massal dan terbuka seperti itu, apalagi disiarkan secara langsung oleh televisi yang menampilkan Ustad Arifin Ilham menangis tersedu-sedu diikuti oleh para jamaahnya. Kurang sreg gitu, menurut saya eksploitasi seperti itu dapat mengurangi kekhusukan dzikir sebagai ibadah personal antara makhluk dengan Khaliknya. 

Namun terhadap ustad Yusuf Mansur saya memberi respon positif. Saya mengikuti ceramah, diskusi, maupun obrolan dari ustad ini di televisi. Kata-katanya sederhana namun bernas dan mengena di hati. Ustad Yusuf Mansur mengusung tema “shadaqoh” atau sedekah dalam setiap dakwahnya. Dia mengajak ummat Islam untuk rajin bersedekah. Sebagian besar ummat Islam memahami sedekah adalah sebuah pemberian secara ikhlas untuk membantu orang dhuafa, misalnya memberi sedekah kepada pengemis, anak yatim, orang miskin, dan kaum papa lainnya. Setelah memberi sedekah umumnya kita melupakan pemberian tadi dan menganggap sedekah sebagai hal yang biasa saja. 

Tapi, di “tangan” ustad Yusuf Mansur, makna sedekah (giving) lebih dari sekedar memberi. Dia menulis di dalam bukunya, The Power of Giving, tentang manfaat bersedekah. Sedekah tidak hanya untuk mensucikan harta, tetapi juga dapat menghapus dosa, memperoleh ampunan Allah, mendapatkan ridha dan kasih sayang dari Allah, memperoleh bantuan dari Allah, dan memakbulkan doa-doa. Dia menjelaskan konsep yang bernama “matematika sedekah”. Konsep matematika sedekah tidak sama dengan matematika yang kita kenal. 

Dasarnya ada pada Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 160 dimana Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik (bersedekah adalah salah satu perbuatan baik):
Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). 
QS. Al-An’am (6) : 160

Begini konsep matematika sedekah itu (dikutip dari sini)

Menurut pelajaran matematika yang kita kenal di sekolah dasar,
10 – 1 = 9,
tetapi, di dalam matematika sedekah,
10 – 1 = 19,
sebab setiap kali kita bersedekah dengan memberikan satu unit rizki (harta) kita, Allah akan menggantinya (membalasanya) 10 kali lipat.
Jika matematika sedekah itu dilanjutkan, maka kita memperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:

10 – 2 = 28
10 – 3 = 37
10 – 4 = 46
10 – 5 = 55
10 – 6 = 64
10 – 7 = 73
10 – 8 = 82
10 – 9 = 91
10 – 10 = 100

Jadi, setelah 10 unit harta kita habis disedekahkan, maka kita memperoleh balasan dari Allah SWT 10 kali lipat dari semula, yaitu 100 unit. Matematika sedekah ini juga menjelaskan bahwa seseorang tidak akan jatuh miskin karena sering bersedekah, sebaliknya rizkinya makin bertambah. Subhanallah. Karena itu tidaklah perlu seseorang mempunyai sifat pelit atau kikir kepada orang lain.

Apakah balasan dari Allah SWT yang 10 kali lipat itu? Apakah berupa rezki yang jumlahnya 10 kali lipat dari harta yang kita sedekahkan? Wallahu alam, bisa begitu atau dalam bentuk yang lain, hanya Allah yang tahu. Balasan dari Allah SWT bisa berupa bantuan yang tidak terduga datangnya, bisa juga berupa dikabulkannya doa dan keinginan yang selama ini selalu dipinta. Ustad Yusuf Mansur menghadirkan kisah orang-orang yang mendapat anugerah tidak terduga karena kebiasaan bersedekah. Ada tukang bubur ayam keliling yang mendapat hadiah naik haji, ada wanita yang sudah “pertu” (perawan tua) mendapat jodoh, ada orang yang terlilit hutang yang ditolong orang lain sehingga hutangnya lunas, dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa memang Allah SWT membalas pemberian ummat-Nya dengan balasan yang tidak pernah ia bayangkan. 

Satu hal yang pasti, Allah SWT sangat menyayangi ummat-Nya. Bersedekah atau memberi dapat mengijabah doa dan memudahkan banyak urusan. Memberi itu memang menakjubkan, giving is amazing

-semoga kita dapat mempercayai & mengikuti pelajaran ini-
Read More.. Ustadz Yusuf Mansur dan "Matematika" Sedekah

Apakah Adik Ipar Itu Mahram ??

by in

Berikut adalah firman Allah yang menjelaskan mahram-mahram tersebut :


حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya : "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa : 23)

Dalam ayat diatas telah disebutkan secara terperinci siapa saja mahram kita, tidak di sebutkan "dan istri dari saudara laki-lakimu" dalam ayat tersebut.

Adik laki-laki anda bukanlah mahram bagi istri anda. karena Allah tidak menyebutkan dalam ayat diatas. dan pelarangan Islam berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya tidak semata-mata karena ditakukkan hal-hal yang tidak di inginkan. akan tetapi banyak sekali tujuan dan hikmah dari pelarangan tersebut dan pelarangan-pelarangan pada umumnya dalam Islam, dan ulama telah banyak merincikan akan tujuan-tujuan tersebut.

Di antara tujuan yang paling penting adalah "ta'abudiyah." yaitu tunduknya kita atas aturan-aturan yang Allah tetapkan. ketika Allah melarang hamba-Nya akan suatu perbuatan, tujuan paling utama adalah ketundukan kita kepada Allah, dan setelah itu baru tujuan-tujuan yang lainnya, diantaranya adalah menjaga kesucian hati dan diri. dan menjauhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Solusi yang saya tawarkan jika keadaan anda demikian, anda bisa membawa istri dan anak-anak ke rumah lain, seperti rumah orang tua, atau rumah keluarga istri. atau kerumah mahram istri sebagaimana yang di rincikan dalam ayat di atas.

-semoga bermanfaat-
Read More.. Apakah Adik Ipar Itu Mahram ??

Yaa Ukhti.. Jauhilah Tabarruj !!

by in

Apa itu Tabarruj…?
Tabarruj yakni bila “seorang wanita menampakkan perhiasannya dan kecantikannya serta terlihat bagian-bagian yang seharusnya wajib ditutupi, dimana bagian-bagian itu akan memancing syahwat pria.” [ Fathul Bayan 7 / 274 ]
Allah Azza wajalla tentang permasalahan ini bersabda dalam Surah Al-Ahzab:

(٣٣) ~ وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا ¯

artinya:
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kalian bertabarruj seperti bertabarruj-nya wanita jahiliyyah dahulu, dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul- Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul-bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [QS Al-Ahzab : 33 ]
————————————————————————

Imam Adz~Dzahabi berkata dalam “Al~Kaba`ir” yakni “Di antara perbuatan yang menyebabkan para wanita mendapat laknat adalah menampakkan perhiasan emas dan permata yang ada di balik pakaiannya, memakai misk, anbar (nama sejenis minyak wangi) dan parfum jika keluar dari rumah, memakai pakaian-pakaian yang dicelup, sarung-sarung sutera dan penutup kepala yang pendek, bersamaan dengan itu dia memajangkan pakaian, meluaskan dan memanjangkan ujung lengan pakaian. Semua itu termasuk tabarruj yang Allah murkai. Allah murka kepada pelakunya di dunia dan akhirat. Karena perbuatan-perbuatan ini yang banyak dilakukan wanita, Rasulullah Shalallohu`alaihi wasallam bersabda:
“……. Aku memandang ke neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.”
Hadits ini diriwayatkan oleh :
1. – Bukhari dalam kitab Bad’ul Khalq bab Maa Ja’a fi Shifatil Jannah (kitab 59 bab 8).
2. – Tirmidzi dalam kitab Shifatil Jahannam bab Maa Ja’a Anna Aktsara Ahli Nar An Nisa’ (kitab 40 bab 11 hadits ke-2602), dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 2098 dari Ibnu Abbas.
3. – Ahmad 2/297 dari Abu Hurairah. Dan hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’ 1030.

Dari Imran bin Hushain berkata : “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya penghuni Surga yang paling sedikit adalah para wanita….’ “
(HR. Muslim 95, 2738. An Nasa’i 385)

Saya (Syaikh Al~Albani, pent.) berkata: “Islam telah bersikap keras dalam memperingatkan ummatnya dari perbuatan tabarruj ini hingga menyandingkannya dengan kesyirikan, zina, mencuri dan perbuatan haram lainnya. Itu terjadi ketika Nabi Shalallohu`alaihi wasallam membai`at para wanita agar mereka tidak melakukan hal-hal itu. Abdullah bin `Amr radhiyallahu`anhu berkata: Umaimah binti Ruqaiqah datang kepada Rasulullah Shalallohu`alaihi wasallam untuk berbai`at kepada beliau, maka beliau berkata:
“Saya akan membai’atmu untuk engkau tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, jangan engkau mencuri, berzina, membunuh anakmu, melakukan kebohongan yang engkau buat antara hadapanmu dan antara dua kakimu, jangan meratap dan jangan bertabarrujnya jahiliyyah dahulu.”

Ketahuilah, bukan termasuk perkara terlarang sedikitpun jika pakaian wanita yang dia pakai berwarna putih atau hitam, sebagaimana yang dianggap oleh sebagian wanita yang komit terhadap Sunnah.
Itu dengan alasan :
® Pertama : Sabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam yang berbunyi: “ Parfum wanita adalah yang jelas warnanya dan lembut harumnya … “

® Kedua : Pengalaman para wanita sahabat, dengan kisah sebagai berikut :
1 : Dari Ibrohim An Nakha’i bahwa dia masuk bersama Alqamah serta Al Aswad kepada isteri – isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia melihat mereka menyelimuti diri mereka dengan pakaian berwarna merah.
2 : Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata; Aku melihat Ummu Salamah mengenakan jilbab dan berselimut dengan pakaian yang dicelup ddengan warna mu`ashfar (campuran antara kuning dan merah).
3 : Dari Al qosim, yaitu Ibnu Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq dia berkata bahwa ‘Aisyah memakai pakaian yang dicelup dengan mu’ashfar, padahal dia waktu itu sedang ihram.”
Read More.. Yaa Ukhti.. Jauhilah Tabarruj !!

Relativitas Waktu

by in

Kini, relativitas waktu adalah fakta yang terbukti secara ilmiah. Hal ini telah diungkapkan melalui teori relativitas waktu Einstein di tahun-tahun awal abad ke-20. Sebelumnya, manusia belumlah mengetahui bahwa waktu adalah sebuah konsep yang relatif, dan waktu dapat berubah tergantung keadaannya. Ilmuwan besar, Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.

Tapi ada perkecualian; Al Qur'an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi :

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (QS Al-Hajj : 47)


يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS As-Sajdah : 5)


تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun." (QS Al-Ma'arij : 4)

Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:


قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ # قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ # قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Allah bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman: 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui'." (QS A-Mu'minun : 112-114)

Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur'an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M, adalah bukti lain bahwa Al Qur'an adalah Kitab Suci.
Read More.. Relativitas Waktu